LokasiDewasa – Cerita Dewasa Wisnu merupakan lelaki awal 30-an berpenghidupan lumayan dengan profesi sebagai seorang pialang di suatu perusahaan sekuritas sedang. Tak ada yang aneh dengan kehidupannya. Semua berjalan lancar. Jika ada tekanan-tekanan dalam profesi bahkan membuatnya merasa bergairah untuk menjalaninya. Ini hidup katanya dalam hati.

Kehidupan seks-nya juga demikian, hampir tak ada persoalan. Ia bisa mendapatkan apaJika ia ingin, tentunya dengan proses yang wajar, karena Wisnu sangat menghindari ‘sex shopping’ atas alasan-alasan tertentu. “Biar cinta berjalan semestinya,” yakinnya.

Sore itu market mendekati closing hours. Ia menjauhi mejanya, berjalan sebentar meregangkan otot. Hari ini ia sangat puas. Pasar sangat bersahabat dengannya. Sejumlah keuntungan berhasil dibuatnya dalam one day trade. Sebagian masuk ke dalam rekening pribadinya.

“Aku memang patut mendapatkan,” pikirnya, tak ada yang merugikan atau dirugikan, kepuasan seperti ini selalu membuatnya terangsang secara seksual. Dipandangnya sekitarnya. Ada sebagian wanita rekan kerja yang masih berkutat. Ia segera memalingkan wajahnya.

Perlu sebagian tahapan untuk mengajak salah seorang dari mereka ke tempat tidur, & itu menyita waktu & emosinya. Lebih baik aku pulang batinnya. Ada sesuatu yang mengingatkan untuk menunda jam kepulangannya, ia tak mempedulikan.

Dikemudikan mobilnya keluar dari basement perlahan. Sebagian anak SMU tampak bergerombol di halte dekat gedung kantornya.

 “Ahh..” kernyitnya. Ia terjebak di kemacetan rutin sore hari. Dirinya sudah mengingatkan agar menunda.

“Instingku semakin bagus saja,” senyumnya kecut. Dilihatnya ke luar jendela mobil. Antrean mobil sepanjang kira-kira 200-an mobil tak bergerak sama sekali. Dilihatnya ke belakang dengan putus asa. Keadaan di belakang sama buruknya dengan pemandangan di depannya.

Wisnu menarik nafas dalam-dalam. Digerakkan cermin di atas ke wajahnya.

“Tenang Wis, ini bukan alasan yang bagus untuk merusak 1 hari tenangmu,” katanya sambil membenarkan letak rambutnya.

Tiba-tiba seseorang berseragam LLAJR mengetuk kaca mobilnya.

Dengan segan ditekannya switch jendelanya. Petugas itu memberitahu kalau terjadi kecelakaan beruntun di depan & mungkin lalu lintas baru dapat lancar paling cepat 30 menit. Dihempaskan tubuhnya ke kursi mobil.

“Bagus!”dia menutup wajahnya. Itulah alasan yang paling tepat untuk merusak moodnya. Dibukanya TV mobil. Dipilihnya satu film bokep kesayangannya di remote. Ditatapnya adegan-adegan itu dengan hambar.

“Huh! Di tengah kemacetan nonton film bokep malah menambah persoalan,” sungutnya sambil mematikan. Wisnu menyerah. Dimatikan mesin mobil sembari menatap ke arah kiri.

Tampak di luar gadis-gadis berseragam SMU masih bergerombol menunggu bis kota. Sebagian di antaranya duduk di trotoar. Diperhatikannya satu persatu. “Dasar gadis remaja, mereka tak mempedulikan cara duduknya,” katanya dalam hati.

Tiba-tiba darahnya berdesir. Tungkai-tungkai indah itu milik gadis yang sangat muda. Diperhatikannya lagi lebih seksama. Ada yang bertumpu dengan tangannya di belakang sehingga dadanya membusung ke depan. Wajahnya begitu bersih & muda. Rambutnya sebahu dengan leher yang jenjang. Wisnu mulai termakan fantasinya sendiri.

Ia memang tak pernah bercinta dengan gadis belia. Itukah yang diinginkannya saat ini? “Tak,” sahutnya sendiri, “Itu terlalu gila.” sambil menatap ke depan ia tak dapat menahan diri untuk melihat kembali ke arah kirinya.

Diperhatikan dengan seksama lekukan pantat yang padat itu dengan lutut indah & kulit yang bersih. Segala gerakan gadis itu ditangkap matanya & dialirkan ke otaknya dalam format gerakan erotis.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka tersingkap roknya. Wisnu bersorak dalam hati. Diperhatikannya dengan seksama paha bagian dalamnya… begitu kencang, & perlahan ia mulai ereksi. Kaca film mobilnya membuatnya sangat aman dalam bereksplorasi.

Ia mulai menurunkan reitsleting celananya. Dibelainya lembut batang kejantanannya tanpa melepaskan pandangan dari gadis itu. Jantungnya berdetak kencang. Imajinasinya meluapkan perasaan baru yang sangat dahsyat, bercinta dengan belia. Butir keringat mengalir ke lehernya. Ditariknya sebagian lembar tissue apaJika ia orgasme nanti.

Tiba-tiba para gadis itu berdiri & berjalan menjauhi halte karena sebagian orang berkulit gelap berbadan besar memasuki halte itu. Wisnu meraung keras sekali. “Arrgh!” Ditatapnya para lelaki itu. Mereka menyerupai segerombolan kera besar daripada manusia.

Dilemparnya box tissue ke belakang. Ia percaya bahwa saat itu kecepatan batang kejantanannya menyusut lebih cepat dari cahaya. Dengan mengumpat ia merapatkan reitsleting celananya kembali.

Langit semakin gelap. Rupanya awan berkumpul membentuk sebuah awan gelap besar. Kilat & guntur bersahutan, diakhiri oleh curahan air yang berirama semakin cepat & lebat. Di dalam mobil Wisnu tampak melambai-lambaikan tissue putih di atas kepalanya, tanda menyerah kepada nasib buruknya.

Para gerombolan kera itu bergerak melewati depan mobilnya menyeberang ke seberang jalan. Salah seorang dari mereka memukul kap mobilnya. Wisnu membalas dengan mengacungkan jari tengahnya. Ia merasa aman. Toh mereka takkan melihatnya.

Dinyalakannya mesin mobilnya karena kaca mulai mengembun. Dinyalakan stereo mobilnya sambil memandang ke kiri. Wisnu hampir memekik girang. Salah seorang dari gadis SMU itu ada di sana dalam keadaan basah kuyup.

Wisnu memutar kepalanya untuk mencari yang lain. Ah, tampaknya ia sendirian, sesal Wisnu. Tapi tunggu… dalam keadaan basah semua lekuk tubuh gadis itu menjadi tercetak jelas. Rambutnya yang basah, pakaian putihnya melilit erat tubuhnya yang sintal, toketnya menggelembung indah dengan pantat yang bundar, Wisnu kembali ereksi.

Bibirnya bergetar menahan nafsu birahinya yang melintas menabraknya berulang-ulang. Matanya terasa panas. Dibukanya pintu mobilnya kemudian ia berlari mendekati gadis itu. Sengaja ia berdiri di belakangnya supaya leluasa menatap tubuh gadis itu.

Betapa belianya gadis ini, tubuh yang belum pernah tersentuh oleh lelaki. Toketnya sangat penuh menyesaki branya sekitar 34. Pinggul yang ramping dengan pantat bundar yang berisi ditopang oleh lutut & tungkai yang indah & bersih.

Gadis itu memutar tubuhnya & berhadapan dengannya yang sedang menjadi Juri festival foto bugil. Wisnu tergagap & secara refleks menyapanya. Gadis itu tersenyum sambil memeluk tasnya menutupi seragamnya yang transparan.

Dengan berdalih bosan di mobilnya, Wisnu mendapatkan banyak alasan & obrolan ringan di halte itu. Gadis itu bernama Diana, kelas satu SMU swasta berumur 16 tahun. Wisnu tak menghiraukan secara detail percakapannya karena suara Diana terdengar sangat merangsangnya.

“Kita ngobrol di mobil yuk, capek berdiri nih,” kata Wisnu.

Diana menatap ragu. Wisnu menangkap maksud pandangan itu.

“Ok, begini… Kamu nggak perlu takut. Ini dompet saya. Ini kunci mobil. Di dalamnya ada semua kartu identitas saya. Kalo saya berniat jahat dengan kamu, kamu boleh buang kunci ini & bawa dompet saya ke polisi, ok?” Diana tersenyum riang menerima dompet itu, lalu mereka bersama-sama memasuki mobil.

Di dalam mobil Diana merasa gugup. Baru kali ini ia manuruti orang asing, laki-laki lagi. Sekilas teringat pesan ibunya untuk menjaga diri, & bayangan pacarnya yang tak menjemputnya. Diana menjadi kesal. Diana membuka dompet itu, terdapat sebagian credit card & kartu identitas. Diambilnya KTP lalu diselipkan di saku bajunya. “Ini cukup,” ujarnya.

Dengan tersenyum acuh Wisnu menerima dompetnya kembali sambil menyalakan stereo setnya. “Kamu kedinginan? saya punya kemeja bersih. Kamu bisa ganti baju di belakang. Saya janji tak akan menegok ke belakang,” tanya Wisnu penuh harap. Diana menggelengkan kepalanya.

Obrolan sore itu menjadi lancar didukung suasana gelap mendung & derasnya hujan. Bahkan Diana pun mulai berani menceritakan dirinya. Mata Wisnu mencuri pandang untuk menatap paha Diana yang tersingkap. Wisnu menceritakan dirinya, pacarnya & secara halus iapun menceritakan pengalaman seksualnya, bagaimana ia melakukan foreplay.

Ia ceritakan dengan lancar & halus hingga Diana tak tersinggung. Wisnu menangkap sebagian kali Diana menarik nafas panjang, sepertinya Diana terangsang mendengar cerita Wisnu. Wajahnya mulai memerah, jemarinya memilin ujung tali tasnya. “Tampaknya ini tak cukup,” kata Wisnu. Lalu ia menawarkan Diana untuk menonton VCD kartun kesayangannya.

Diana berseru gembira. Lalu Wisnu membuka TVcar-nya & berkata, “Kamu tunggu di sini. Kunci pintunya. Saya mau keluar beli permen di sebelah halte itu.” Diana mengangguk pelan & matanya menatap layar TV kecil penuh harap.

Wisnu keluar mobil sambil membawa remote lalu menyalakan VCD changer dari luar mobil dengan film yang sama ia tonton sebelum hujan tadi. Ia berlari ke pedagang asongan pinggir jalan & melirik jamnya… 5 menit dari sekarang! sambil membicarakan cuaca ke pedagang asongan itu. Diana menatap adegan di mini TV itu.

Lelaki sedang menjilati seluruh tubuh wanita pasangannya. Jantungnya berdegub. Ia memejamkan mata, tetapi suara lenguhan & desisan membuatnya kembali ke layar. Dilihatnya keluar. Ia tak bisa menemukan Wisnu dari dalam mobil itu. Kembali ke layar, tertegun ia melihat lelaki itu menjilati puting susu.

Tangannya menjadi dingin. Lelaki itu sekarang menjilati paha. Diana menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanannya. Lalu lelaki dalam film itu mulai menjilati liang kewanitaan wanita itu. Diana merasa seluruh tubuhnya gemetar, nafasnya terengah-engah. Iapun heran mengapa nafasnya begitu.

“Sorry rada lama, nggak ada kembalian. Terpaksa saya nunggu pedagangnya tukar uang,” sembur Wisnu. Diana tersentak & memalingkan wajahnya. Wisnu pura-pura terkejut sambil cepat-cepat mematikan stereonya & menutup layarnya.

“Aduh, maaf.. kenapa bisa ini.. maaf Dian,” kata Wisnu tergagap. Lalu ia membuka CD changer & mengambil piringan bokep itu lalu mematahkan menjadi dua & membuangnya ke luar mobil. Diana sangat terkejut melihat itu lalu berkata,

“Udah deh Wis nggak pa-pa.. sorry juga aku nggak bisa matiinnya,” katanya sambil memegang lengan Wisnu. Wisnu menoleh pelan sambil menatap mata Diana.

“Sorry?” Diana menyahut pelan.

“Nggak pa-pa,” nafasnya masih terengah-engah. Inilah saatnya, batin Wisnu. Now or never.

Dipegangnya lengan Diana. Ditariknya mendekat, disingkirkan tas di hadapannya. Melihat seragam putih yang masih basah dengan bra membayang itu Wisnu kehilangan kontrol. Bibirnya langsung mengecup bibir Diana. Diana tersentak ke belakang kaget. Wisnu memburunya.

Dikulumnya bibir bawah Diana yang masih terengah-engah itu, sambil menurunkan posisi kursi mobilnya sehingga Diana tampak seperti berbaring. Dilepasnya bibir, dilanjutkan ke telinga. Lidahnya menggelitik belakang telinga Diana sambil sesekali menyeruak masuk ke lubang telinganya. Bau harum rambut Diana memancarkan bau alami gadis belia tanpa parfum, mengundang Wisnu untuk berbuat lebih jauh.

Dibukanya kancing seragam sekolah Diana sambil mengulum mulut Diana. Diana menggelengkan kepalanya perlahan. Wisnu mengangkat kepala sejenak melihat gundukan daging padat & kenyal terbungkus bra berkain lembut.

Betapa muda & tak berdosanya. Biarkan aku menikmati tubuh beliamu, merasakan dengan seluruh indraku untuk membuatmu menjadi ternoda. Aku ingin menyetubuhimu, menghinakan tubuh sucimu, karena aku pantas mendapatkan tubuhmu, hati Wisnu berteriak.

Dibukanya bra itu lalu dengan rakus dijilat puting kiri Diana sambil meremas toket kanannya. Dikulumnya semua daging toketnya, seakan hendak ditelannya. Diana mengerang. Kakinya menjejak-jejak lantai mobil. Lalu Wisnu memindahkan tubuhnya ke atas Diana. Dengan kasar dipegangnya celana dalam Diana. Diana tak sanggup berkata & bergerak, semuanya begitu ketakutan.

Keingintahuan & kenikmatan berbaur, muncul silih berganti menggempur hati, otak & nalurinya. Saat ia merasa takut dengan perbuatan Wisnu, sedetik kemudian ia merasa jiwanya melayang, sedetik kemudian otaknya memerintahkan tubuhnya agar bersiap menunggu kejutan berikutnya begitu berulang-ulang.

Diana meneriakkan kata jangan sewaktu Wisnu dengan kasar melepas celana dalamnya, lalu ia didudukkan di atas kursi mobil bagian atas. Wisnu berpindah tempat dengan cepat ke bawah tubuhnya & mulut Wisnu mulai menjilati liang kewanitaannya seperti hewan yang kehausan. Dicengkeramnya pegangan pintu, kakinya diangkat oleh Wisnu ke atas.

Diana tak tahu apa yang dilakukan Wisnu, tapi ia merasa ada sesuatu di dalam dirinya. Perasaan yang aneh, dimulai dari jantungnya yang berdetak lebih keras lebih cepat menjalar ke pinggulnya, sementara denyutan liang kewanitaannya membentuk impuls yang semakin kuat, semakin cepat, kakinya mengejang, pandangannya mengabur, jiwanya serasa terhempas keatas-bawah. Namun tiba-tiba semua itu berkurang. Dibukanya matanya. Tampak Wisnu sedang mengamatinya dengan matanya yang menyala oleh birahi.

Wisnu mengambil nafas sejenak. Ditatapnya liang kewanitaan Diana dengan rambut kemaluan yang tumbuh tak beraturan. Kemudian dilanjutkannya lagi jilatan sekitar klitoris Diana. Begitu muda, ditatapnya sebentar, liang kewanitaan belia sekarang milikku. Aku menjilatinya, aku menghisapnya.

Sekarang aku bahkan menggigitnya. Liang kewanitaan ini milikku, akan kunodai sesukaku, dengan caraku, dengan nafsuku. Akan kubuat tubuh suci ini ternoda oleh tubuhku, oleh nafsuku. Akan kutaburi tubuhnya dengan pejuhku. Akan kuberi cairanku yang akan menyatu dengan dirinya sehingga ia akan selalu terkotori oleh nodaku.

Wisnu semakin liar & segera menghentikan tindakannya ketika Diana mulai mengejang. Dibukanya cepat celananya, digosokkan batang kejantanannya ke permukaan liang kewanitaan Diana. Dengan mudah dimasukkannya batang kejantanannya perlahan-lahan senti demi senti, sambil mengulum & meremas toket kenyal Diana.

Lalu dibenamkan semua batang kejantanannya. Betapa hangat, betapa nikmat. Lalu mulai digerakkan maju-mundur, semakin lama semakin cepat. Wisnu mendengar suara Diana hanya, “Ssh.. sh..” terputus-putus. Lalu diangkatnya pinggul Diana. Dipercepat gerakan pinggulnya sendiri sampai tubuh Diana melengkung kaku. Kini saatnya… Wisnu mengeluarkan pejuhnya sambil menekan dalam-dalam.

Lima belas menit setelah itu.. Diana menggigit ujung seragamnya yang lusuh, sementara Wisnu merapikan rambutnya. Oh puas, & aku sekarang benci sekali dengan gadis ini, gadis belia yang ternoda. Diambil KTP dari saku Diana lalu sambil diselipkan ke dompet ia mengeluarkan 3 lembar seratus ribu rupiah sambil mencium pipi Diana.

“Ini buat kamu.” Diana menolak sambil terkaget- kaget.

“Aku bukan gadis bayaran Wis..” katanya sambil mulai menangis.

“Aku sayang kamu Wisnui..” sambil terisak-isak.

“Tapi aku tak sayang kamu,” kata Wisnu sambil meletakkan uang itu di dalam tas Diana, lalu Wisnu keluar.

Dalam guyuran hujan ia membuka pintu mobil, lalu menarik Diana keluar. “Lalu lintas akan lancar. Aku harus pulang, kamu juga. Kita pisah di sini. Eh Dian… thanks ya?!” Diana berteriak histeris sambil lari keluar. Wisnu kembali ke mobilnya mengunci pintu & tersenyum melihat mobil di depannya bergerak ke depan. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here